Yayasan Sosial dan Pendidikan Bina Muda
Home | Bukutamu | Web Mail | Forum Diskusi | Kontak Kami |

Anda pengunjung ke : stats counter

Shubh
Zhuhr
Ashar
Maghr
'Isya
04:32
11:41
14:59
17:41
18:51


oheem_sa@yahoo.com

"Hendaklah kamu menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau Allah akan memberikan kekuasaan atasmu kepada orang-orang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang yang baik diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka itu." (HR al-Bazzar dan at-Thabrani).

Lentera
Cakrawala
Konsultasi
e-learning
Tip 'n Trik
Khasanah IPTEK
Dunia Pendidikan

Menurut anda,bagaimana tampilan Webite ini ?
Bagus
Perlu perbaikan
Biasa-biasa
Tidak tahu

Tampilkan Hasil

 
Artikel

Kategori Lentera

, 00:00:00 oleh
Manajemen Optimis


Penulis : DR. H. Setiawan Budi Utomo

Pengalaman pahit dan manis merupakan keniscayaan hidup yang mewarnai siklus dinamika alamiah manusia. Setiap insan senantisa menghadapi medan ujian kualitas iman dan kepribadian (Q.S. Al-anbiya : 35-, Al-Mulk : 2) yaitu kutub idealita dan realita, cita-cita dan hasil nyata, haparan dan kenyataan.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan dirinya, baik sebagai individu, anggota keluarga, kelompok masyarakat, organisasi maupun umat dunia, manusia senantiasa menghadapi peluang dan tantangan. Bil a peluang dan kesempatan yang terbentang besar adanya, lalu ditambah pula dengan modal, potensi, kekuatan maupun kelebihan diri, timbullah rasa optimis (al-fa’i) pada diri manusia.. Sebaliknya bila kekuatan dan potensi yang dimiliki kurang memadai, atau kelemahan dan kekuranga diri lebih besar dibandingkan tantangan dan ancaman, maka biasanya seseorang mudah dihinggapi rasa pesimis (al-ya’s).

1. Arti Optimisme

Optimisme adalah keyakinan akan kemampuan diri. Sikap optimis tentu saja bernilai positif karena mampu memompa semangat dan merangsang kinerja amal seseorang. Namun, sebagaimana vitamin yang penuh khasiat, dosisnya perlu dijaga sesuai kebutuhan.

Optimisme tanpa kalkulasi dan pertimbangan yang tepat adalah suatu kekonyolan yang dapat menjurus kepada sikap bodoh yang dibenci Allah sebagaimana diungkapkan Imam Ghazali. Optimisme macam ini cenderung melahirkan perilaku over estimate, menipu diri dan terlalu berharap.

Sebaliknya, krisis optimisme pun dapat menimbulkan rasa pesimis yang tidak proporsional. Akibatnya, seseorang harus mengalami kesengsaraan karena kalah sebelum berjuang. Sikap pesimis merupakan watak fatalis kaum kafir yang tidak pandai menyukuri nikmat yang ada untuk tetap berharap dan berusaha. Wujudnya adalah cepat putus asa dan senang menyalahkan takdir atau orang lain (Q.S. Yusuf : 87, Fathir : 5, Al-Kahfi : 34-39). Sering terjadi, godaan pesimisme atau rasa optimisme yang over dosis menyulitkan proses pengembangan dan aktualisasi yang dinamis dan produktif.

2. Optimisme dalam setiap situasi

Dalam menghadapi situasi kritis, seorang Muslim harus memiliki optimisme yang tinggi. Betapa banyak contoh penyakit menahun dan akut yang dapat disembuhkan berkat optimisme tinggi. Inilah gairah hidup, yang disebut oleh Dr. Jeanne Segal dalam Raising Your Emotional Intelligence (1997) sebagai sarana untuk mengundang perubahan yang menyembuhkan. Dalam istilah Syari’ah, ketangguhan mental yang didukung oleh sikap optimis merupakan sikap sabar yang positif (shabr jamil), yang dapat mengatasi segala persoalan, tentu bila disertai do’a dan usaha tawakal.

Rasulullah pun sering berpesan kepada pasangan suami istri untuk bersabar dan tetap optimisme saat menghadapi perangai pasangan yang kurang berkenan dihati, dengan harapan suatu hari akan menjadi lebih baik. Sikap optimis yang benar dan sabar merupakan mental positif. Sebaliknya kesal, jengkel dan putus asa adalah mental negatif. Menurut F. Bailes, dalam bukunya, ‘Penyembuhan Penyakit melalui Pikiran’. Pikiran yang positif akan menyehatkan sel-sel tubuh dan pikiran yang negatif akan merusak sel-sel tubuh.

Sikap optimis yang dikelola dengan baik,menurut Alan Loy McGinnis dalam ‘The Power of Optimism (1990), yang akan melahirkan dua belas mental positif yang dapat membangun citra dan kekuatan diri yang handal, yaitu :

a. Jarang terkejut menghadapi kesulitan

b. Berorientasi kepada pemecahan masalah (solusi)

c. Memiliki keyakinan untuk menghadapi masa depan

d. Memiliki potensi pembaharuan secara teratur

e. Menghentikan pola pikir negatif

f. Meningkatkan kekuatan apresiasi

g. Mendayagunakan imajinasi produktif

h. Selalu merasa gembira dan sulit dihinggapi kesedihan

i. Memendam kemampuan yang dapat dikembangkan

j. Selalu membina cinta dan kasih sayang

k. Suka bertukar berita/ informasi

l. Menerima apa yang tidak bisa diubah

Manajemen harapan dan optimis diibaratkan oleh Imam Ghazali sebagai obat yang sangat dibutuhkan oleh dua tipe orang, yaitu seseorang yang dikuasai rasa pesimis (ya’s) sehingga justru meninggalkan usaha dan amal shalih (tafrith), dan seseorang yang dikuasai rasa cemas (khouf) berlebihan, hingga memaksakan diri dan keluarganya dengan ekstra usaha dan ibadah secara ekstrim (ifrath). Bagi kedua tipe orang ini, ‘obat’ optimisme dapat meluruskan pola hidupnya menjadi normal.

Jadi, manajemen optimisme yang baik memerlukan seni kombinasi dan harmonisasi dari rasa harap dan cemas. Dalam bahasa Al-Qur’an, hal ini disebut sebagai sikap harap-harap cemas (khoufan wa thama’an atau raghaban wa rahaban) dalam aktualisasi keshalihan. Sikap ini mengajarkan bahwa kecemasan diperlukan untuk memacu kerja dan upaya maksimal agar tidak cepat berpuas diri dalam kebaikan. Sebaliknya, optimisme dan harapan sangat diperlukan sebagai energi hidup agar tetap menyala, bersemangat dan tidak kenal menyerah.

Melalui manajemen optimisme, kita tak akan lancang mendahului penilaian dan takdir Allah sehingga kita berhenti berbuat. Kita tak juga aka menilai kecukupan usaha berdasarkan perkiraan manusiawi yang pendek dan terbatas. Bukankah kita harus menghayati dan mengamalkan filosofi ‘Iyyaka Na‘ buduuwa Iyyaka Nasta ‘in’ agar hidup kita realistis dengan sunatullah ? Ada baiknya juga kita camkan perkataan Claire B. Luce : “Tidak ada situasi tanpa harapan dalam hidup kita; yang ada hanyalah orang yang merasa tidak berdaya menghadapinya”.

Dibaca : 1306 kali, Di Print : 3 kali, Di Kirim : 0 kali, Tampilkan Komentar [0], Beri Komentar


Kirim Ke Teman Cetak

Artikel yang Lain

Pesan Rasulullah untuk Gubernur Mesir
Taman Kekerasan Anak-anak
Kebenaran? Lihat dari Arah Sebaliknya
Jangan Minder Jadi Ibu
Mengenal Gangguan Haid
Menyikapi Anak Berbohong
Membangun Keluarga dengan Cinta
Manajemen Stres
Manajemen Optimis
Perbandingan Madzhab

 
Web Links
Download
Struktur
Visi Misi
Mars Bina Muda
Sejarah Singkat
SMA
SMP
SDIT
LSQ







   
Beranda Buku Tamu Webmail Kontak Kami Peta Situs Partner Webmaster
Powered By oheemsa
rabiulawal1429_april 17 © 2007. Yayasan Bina Muda Cicalengka.