Yayasan Sosial dan Pendidikan Bina Muda
Home | Bukutamu | Web Mail | Forum Diskusi | Kontak Kami |

Anda pengunjung ke : stats counter

Shubh
Zhuhr
Ashar
Maghr
'Isya
04:32
11:41
14:59
17:41
18:51


oheem_sa@yahoo.com

"Katakanlah, akankah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sesat amal perbuatannya di dunia ini, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya." (QS al-Kahfi:103-104).

Lentera
Cakrawala
Konsultasi
e-learning
Tip 'n Trik
Khasanah IPTEK
Dunia Pendidikan

Menurut anda,bagaimana tampilan Webite ini ?
Bagus
Perlu perbaikan
Biasa-biasa
Tidak tahu

Tampilkan Hasil

 
Artikel

Kategori Konsultasi

, 00:00:00 oleh Admin
Taman Kekerasan Anak-anak


Oleh : Djoko Subinarto

Taman kanak-kanak pada dasarnya merupakan program pendidikan prasekolah bagi anak usia 4-5 tahun. Di Indonesia TK lazimnya dibagi dalam dua kelas. Ada kelas nol kecil dan nol besar. Kelas nol kecil diperuntukkan bagi anak usia 4 tahunan, sedangkan nol besar bagi anak usia 5 tahunan.

Pendidikan tingkat TK sama sekali bukan persyaratan masuk SD. Hal ini tertuang dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 yang menyebutkan bahwa pendidikan prasekolah bukan merupakan persyaratan memasuki pendidikan dasar.

Jadi, tidak wajib hukumnya orangtua memasukkan anak ke TK sebelum sang anak bersekolah di SD. Ironisnya, yang terjadi di masyarakat kita, ada sementara SD yang menolak anak bersekolah di SD tersebut hanya gara-gara sang anak tidak masuk TK terlebih dahulu.

Jerman

Di negara-negara Barat, TK disebut kindergarten. Istilah ini berasal dari dua kata bahasa Jerman, yaitu kinder, bentuk jamak dari kind yang berarti anak-anak, dan garten yang berarti kebun atau taman. Sejarah mencatat, TK pertama kali didirikan di bumi Jerman. TK ini didirikan seorang pria bernama Freidrich Froebel tahun 1837. Ide yang mendasari Froebel mendirikan TK adalah bahwa anak-anak perlu mempunyai tempat dan waktu khusus untuk bermain sembari belajar banyak hal. Atas ide dan jasanya dalam mendirikan TK pertama inilah Froebel kemudian dijuluki sebagai "The Father of Kindergarten."

Idealnya program pendidikan TK diarahkan untuk mendukung pengembangan aspek fisik, sosial, emosional, spiritual, moral, dan intelektual anak berusia 4-5 tahun. Dengan demikian, program yang dirancang harus benar-benar memerhatikan tingkat usia tersebut.

Idealnya pula program pendidikan TK dapat menjadi fondasi bagi proses pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu SD. Untuk itu, pendidikan di tingkat TK antara lain harus menciptakan kesenangan dalam belajar; membantu anak lebih mampu memecahkan masalah; serta membantu anak agar mampu mengamati, mendengar, berbicara, dan berpikir sesuai dengan tingkat usianya. TK juga harus membatu anak meningkatkan kemandiriannya melalui eksplorasi, tanya jawab, dan pemahaman serta menjadi fasilitator bagi perkembangan sejumlah keterampilan.

Menurut kajian yang dilakukan The National Association for the Education of Young Children Amerika Serikat, kurikulum yang baik bagi pendidikan di jenjang TK harus mencangkup beberapa hal. Pertama, penyediaan berbagai peluang bagi anak untuk bermain sambil belajar dengan mengamati dan mengalami langsung berbagai hal nyata. Kedua, keseimbangan antara kegiatan yang berasal dari para guru dan anak-anak. Ketiga, berbagai aktivitas kelompok di mana aspek kerja sama dapat berlangsung secara alamiah.

Keempat, serangkaian aktivitas bermain yang membutuhkan penggunaan otot-otot kecil. Kelima, wahana bagi anak sehingga anak memperoleh kesempatan mengenal literatur dan musik dalam lingkup budayanya sendiri serta budaya lain.

Keenam, kesempatan bagi anak dari berbagai latar belakang dan tingkat perkembangan yang berbeda untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Ketujuh, waktu bagi individu atau kelompok anak untuk bertemu dengan guru guna mendapatkan bantuan dalam penguasaan sejumlah kemampuan dasar anak.

Sumber perkembangan

Para pakar pendidikan anak sepakat, sumber perkembangan penting bagi anak usia dini adalah bermain. Catron dan Allen dalam karyanya, Early Childhood Curriculum, misalnya, menyebutkan bahwa perkembangan anak secara optimal dapat dilakukan lewat bermain.

Aktivitas bermain tidak hanya melibatkan barang-barang atau mainan, tetapi juga kata-kata dan gagasan yang memicu perkembangan berpikir. Karena itu, aktivitas bermain dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah, berpikir kritis, serta membangun gagasan kreatif. Selain itu, lewat bermain perkembangan sosial dan emosional anak juga dapat meningkat.

Sebuah TK didirikan harus dengan tujuan utama sebagai tempat bermain anak. Anak harus lebih banyak bermain ketika masuk dan berada dalam lingkungan TK. TK harus bisa memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan dunia mereka sesungguhnya, yaitu bermain.

Namun, menurut Joan Moyer dari The International Childhood Education Center, pada kenyataannya, karena penekanan yang lebih condong pada pencapaian akademik, banyak TK dewasa ini malah mengesampingkan aspek bermain dan lebih terfokus pada aspek akademik, seperti pelajaran membaca, menulis, dan berhitung.

Sejumlah pegiat hak-hak anak berpendapat, pemberian pelajaran membaca, menulis, dan berhitung di tingkat TK merupakan bentuk kekerasan terhadap mental anak dengan mengatasnamakan pendidikan. Dalam konteks ini TK yang seharusnya menjadi taman bermain anak-anak sesungguhnya telah berubah menjadi taman kekerasan anak-anak.

Menurut sebagian pakar perkembangan anak, pada rentang usia 4-5 tahun sebaiknya anak tidak diberi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Mengapa? Sebab, hal ini akan menghambat kesempatan anak untuk mengembangkan kecerdasan emosi dan sosial yang seharusnya bisa berkembang pesat dan optimal pada rentang usia tersebut. Berbagai kajian membuktikan, anak-anak yang mengalami hambatan perkembangan kecerdasan emosi dan sosial cenderung rentan depresi dan terlibat dalam kenakalan remaja tatkala usia anak semakin bertambah.

Nah, apakah Anda sebagai orangtua rela memiliki anak yang rentan depresi dan nakal? Pilihan sepenuhnya ada di tangan Anda.

DJOKO SUBINARTO Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung; Pengarang Buku 1001 tentang Sekolah: Panduan Orangtua Memilih Tempat Belajar yang Tepat

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/16/14041846/Taman.Kekerasan.Anak-anak

Dibaca : 1494 kali, Di Print : 2 kali, Di Kirim : 0 kali, Tampilkan Komentar [0], Beri Komentar


Kirim Ke Teman Cetak

Artikel yang Lain

Pesan Rasulullah untuk Gubernur Mesir
Taman Kekerasan Anak-anak
Kebenaran? Lihat dari Arah Sebaliknya
Jangan Minder Jadi Ibu
Mengenal Gangguan Haid
Menyikapi Anak Berbohong
Membangun Keluarga dengan Cinta
Manajemen Stres
Manajemen Optimis
Perbandingan Madzhab

 
Web Links
Download
Struktur
Visi Misi
Mars Bina Muda
Sejarah Singkat
SMA
SMP
SDIT
LSQ







   
Beranda Buku Tamu Webmail Kontak Kami Peta Situs Partner Webmaster
Powered By oheemsa
rabiulawal1429_april 17 © 2007. Yayasan Bina Muda Cicalengka.